Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur
Muka | Kontak | Buku tamu

Tentang Karsten

Tentang KITA
Kegiatan
Berita & Artikel
Foto
Award
Keanggotaan
Merchandize
  Foto Herman Thomas Karsten yang ditampilkan di situs ini digambar ulang oleh Aloysius Ringga Barta    
  BIOGRAFI

Ir. Herman Thomas Karsten ( 1884 – 1945 ):

Lahir tahun 1884 dengan nama Herman Thomas Karsten, berasal dari keluarga terdidik di Amsterdam, ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan wakil ketua Chancellor di Universitas Amsterdam. Ia seorang aktivis yang progresif dalam perkumpulan mahasiswa sosial demokratis. Pada tahun pertama setelah masuk universitas, ia menjadi anggota STV atau Social – Technische Vereeniging va Democratische Ingenieurs en Architecten, sebuah kelompok mahasiswa teknik arsitektur berhaluan demokrasi. Tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota tersebut diatas.

Waktu itu pada jurusan arsitektur di Delft, tidak terlalu banyak memberikan perhatian dalam studi masalah perumahan maupun perencanaan kota. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Thomas Karsten dalam perencanaan perumahan dan pengembangan kota di Indonesia adalah hasil pengalaman aktif di organisasi.

Sebagai akibat revolusi industri, keadaan perumahan terutama kaum buruh di berbagai negara Eropa sangat buruk sehingga menjadi permasalahan pemerintahan dan para perencana. Diadakan proyek-proyek perbaikan perumahan dan pengembangan kota, antara lain di Inggris timbul gerakan “Garden City” atau Kota Taman. Gerakan ini banyak mendapat perhatian dan diterapkan di negara- negara Eropa lainnya seperti misalnya di Jerman. Dalam Konggres Perumahan Internasional tahun 1913, di Scheveningen Belanda, H.F. Tellima menguraikan buruknya kondisi perumahan terutama dalam sistem penghawaan dan pencahayaan di Indonesia. Kondisi seperti itu dikemukakan dengan mengetengahkan kasus kampung-kampung di Semarang. Pengalaman Karsten dalam organisasi termasuk kunjungannya di Berlin (sebuah kota yang sangat maju dalam perencanaan kota dan perumahan), berpengaruh besar pada karya-karyanya di Indonesia.

Pada akhir 1914 Thomas Karsten meninggalkan Belanda, berangkat ke Indonesia atas undangan bekas teman kuliahnya Maclaine Pont. Namun satu tahun kemudian Maclaine Pont kembali ke Belanda karena kesehatannya dan Karsten membeli biro tersebut. Disinilah pertama kali Karsten memulai bekerja sebagai arsitek dan tahun-tahun berikutnya banyak terlibat dalam perencanaan perumahan dan perkotaan. Pengalaman Karsten di organisasi saat masih kuliah inilah yang banyak ia manfaatkan dan justru bukan dari bangku kuliah.

Sejak tahun 1903, sebelum Karsten tiba di Indonesia, telah ada aktivitas lokal dalam bidang perencanaan kota. Aktivitas tersebut merupakan pelaksanaan dari politik desentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya. Pada saat itulah Karsten diangkat menjadi penasehat otoritas lokal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum. Sebagai penasehat kota, Karsten juga menyusun paket lengkap kota, yang berisi :

  • Town-plan ; perencanaan kota
  • Detail plan ; rencana detail kota
  • Building Regulation ; peraturan bangunan untuk sejumlah kota di Jawa, antara lain : Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun, Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara) dua kota kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dan kota Purwokerto. Ia juga menjadi penasehat kota- kota Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin.

Kawasan Candi adalah salah satu karya Karsten yang sampai saat ini terasa gaya Eropanya, yang memang kental pada saat itu, yakni konsep “Garden City” ; rumah-rumah dengan halaman luas. Lahan seluas 50 Ha dibagi menjadi tiga zona sesuai dengan karakteristik topografi dan flora, sedangkan tipe bangunan, ia menerapkan konsep pengelompokan berdasar tingkat ekonomi. Perencanaan kawasan di Semarang yang ia rencanakan juga adalah daerah Pekunden dan Peterongan, Sompok dan Semarang Timur pada tahun 1919.

Tahun 1930 ia diangkat menjadi penasehat dalam perencanaan kota Malang, Jawa Timur, tahun 1937 ia merencanakan kawasan rumah murah di daerah Kwarasan, bagian Selatan-Barat kota Magelang.

Karya-karya Karsten selain kantor adalah pasar, dengan bekerja sama dengan pemerintah ia membangun banyak pasar antara lain : Pasar Jatingaleh (1930), Pasar Johar (1933), Pasar Sentral (1936) dan Pasar Ilir di Palembang. Yang paling terkenal pada saat itu adalah Pasar Johar ; merupakan pasar terbesar dan termodern di Indonesia. Yang menjadi sorotan adalah jenis konstruksi yang ia gunakan pada waktu itu adalah Konstruksi Jamur, konstruksi tersebut termasuk konstruksi muthakir karena perhitungan dan pelaksanaannya memerlukan ketelitian dan ketepatan yang tinggi.

Konstruksi tersebut juga digunakan pada bangunan Johnson Wax Building di Wisconsin (1936) karya arsitek Amerika terkenal Frank Lloyd Wright. Sedikit perbedaan yaitu pada penampang kolom dan bagian atasnya berbentuk lingkaran.

Tahun 1933 Karsten membangun Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, juga pernah menjadi penanggung jawab untuk perluasan dan modifikasi Keraton Mangkunegoro VII di Surakarta pada tahun 1917-1920.

Karena keprihatinannya terhadap tenaga ahli teknik di Indonesia, iapun menyumbangkan tenaganya dengan mengambil bagian di kuliah perencanaan kota di ITB, sempat menjadi Profesor selama enam bulan (1941-1942). Namun akhirnya, Karsten yang banyak jasanya, harus mengalami nasib pahit dalam hidupnya karena pada tahun 1945 ia meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi.

Sosok arsitek Karsten ternyata mempunyai sejarah yang tidak bisa dipisahkan dengan rekan sejawatnya saat kuliah di Technische Hoogeschool di Delft, yakni Maclaine Pont. Karsten masuk ke universitas tersebut pada tahun 1904 sedangkan Maclaine Pont dua tahun lebih awal masuk ke jurusan arsitektur pada universitas yang sama.

Henri Maclaine Pont :

Seorang berkebangsaan Belanda namun lahir di daerah Meester Cornelis, sekarang disebut Jatinegara pada bulan Juni tahun 1885. Seperti kebanyakan keluarga Belanda pada masa itu, apabila anak-anaknya sudah berumur sekitar sepuluh tahun mereka di kirim ke Belanda untuk belajar sampai dengan selesai kuliah di universitas. Maclaine Pont menyelesaikan tiga disertasi di bidang hukum, seperti ayahnya Pieter Maclaine Pont yang termasuk orang Belanda liberal yang tidak setuju dengan penjajahan. Mereka tinggal sampai dengan berakhirnya masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia sekitar tahun1942.

Atas saran ayahnya, pada tahun 1904 ia masuk Technische Hoogeschool de Delft, sekolah paling terkemuka di Belanda mengambil jurusan pertambangan, karena ia tidak tertarik setelah tahun pertama ia pindah ke jurusan arsitektur. Dari jurusan inilah, Maclaine Pont nantinya menjadi arsitek terkemuka dalam perkembangan arsitektur Belanda. Setelah selesai studi sekitar tahun 1909 ia bekerja di Belanda sebelum akhirnya berangkat ke Indonesia.

Pada awal tahun 1911, pertama kali ia menginjakkan kaki di kota Tegal dan merancang Kantor NIS di kota Tegal. Pada pertengahan tahun 1913 ia pindah ke Semarang dan mulai memantapkan kantornya dan sibuk dengan proyek-proyek kantor di Tegal, beberapa bangunan perkeretaapian di Purwokerto, gudang-gudang untuk gula di Cirebon, Cilacap, Maclaine Pont juga membuat rencana pengembangan perkotaan di Semarang Selatan dan di Surabaya. Karena banyaknya pekerjaan yang ditangani, maka ia memanggil rekannya Ir. Thomas Karsten untuk bekerja sama.

Pada pertengahan tahun 1915, Maclaine Pont sakit, bersama isterinya kembali ke Belanda. Setelah sembuh ia bekerja pada kantor Kereta Api di Utrecht. Karena tidak berpikir lagi kembali ke Indonesia, pada tahun 1918 ia menjual bironya di Semarang kepada Karsten dan kawan-kawan. Namun di luar rencananya pada tahun itu juga Maclaine Pont diundang ke Indonesia untuk merencanakan Sekolah Tinggi Teknik di Bandung. Desain mulai di kerjakan di Belanda dan selesai pada tahun 1919 untuk dibawa ke Indonesia, selama dua tahun ia mengawasi pembangunan itu bersama badan pembangunan pemerintah kota dan pada tahun 1920 bangunan selesai dan di resmikan oleh Gebernur Jendral Fock. Pada tahun 1921 perkuliahan dimulai dengan jurusan Teknik Sipil dan sekolah tersebut bernama Techsnische Hoogeschool Bandung atau sekarang terkenal disebut ITB. Selama THB dibangun hingga tahun1924 ia tinggal di daerah Mampang, sekarang menjadi daerah urban di Jakarta. Tahun 1924 ia ke Surabaya sebagai penasehat perkeretaapian, sempat meneliti reruntuhan Kerajaan Majapahit di Trowulan sampai dengan tahun 1943. Tahun 1936 merancang Gereja Pohsarang atas permintaan pastor G.H. Wolters. Tahun 1945 masuk kamp tahanan Jepang setelah keluar pada tahun ia diangkat menjadi Profesor di bidang arsitektur di Techsniche Hoogeschool Bandung, karena kesehatannya makin memburuk ia berobat ke Australia pada tahun 1946 dan langsung pulang ke negeri Belanda, kondisi di Indonesia tidak memungkinkan ia untuk kembali karena pendudukan dan kekuasaan Jepang.

 
       


Copyright©KITA 2004
This site and all of its content are protected by law