Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur
Muka | Kontak | Buku tamu

Berita dan Artikel

Berita & Artikel
Foto
    Berita terkait:
Kompas Edisi Jawa Tengah, Senin, 20 Desember 2004
Memimpikan Semarang yang Lebih Humanis...

Seandainya Herman Thomas Karsten -arsitek besar asal Belanda- masih hidup, Kota Semarang mungkin tidak akan melenceng dari konsep awal sebagai kota humanis. Sejak awal, Karsten sudah menerapkan konsep pembangunan yang peduli terhadap rakyat kecil dan tidak melupakan unsur-unsur lokal.

Karsten, yang datang ke Semarang pada 1914, mendesain beberapa gedung bersejarah dan beberapa wilayah permukiman di Semarang. Daerah perbukitan Candi Baru (1916), Pekunden, Peterongan, Batan, Wonodri (1919), Sompok (1919), Semarang Timur (1919), dan Mlaten (1924) adalah wilayah yang direncanakan dengan cermat oleh Karsten.

Ciri yang menonjol dari Karsten -dan jarang ditemukan pada arsitek lain- adalah dia memerhatikan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karsten adalah arsitek yang mengubah sistem perencanaan kota gaya kolonial yang memisahkan wilayah berdasarkan ras, yakni Eropa, Bumiputera, dan China.

Dalam mendesain Kota Semarang, Karsten memilih untuk merancang dengan basis ekonomi, bukan ras. Tipe rumah dan klasifikasi jalan semuanya disesuaikan dengan konsep pemisahan berdasarkan ekonomi. Dia juga selalu memerhatikan aspek lingkungan dengan membuat taman yang asri dan rimbun di beberapa wilayah kota.

Rencana besar Kota Semarang yang dibuat Karsten antara lain membangun kawasan elite di Semarang Utara.

Kawasan itu menawarkan pemandangan atas laut dan kota yang diminati oleh kalangan berpunya. Sebaliknya, di tempat lain, Karsten membangun rumah yang lebih kecil dan murah.

Untuk menyiasati agar lingkungan mewah itu tidak terlalu terpisah dari rakyat biasa, Karsten menciptakan gradasi lebar jalan. Dalam satu lingkungan, Karsten membuat lebar jalan yang beragam, mulai dari lebar sampai sempit.

Menurut dosen arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Albertus Sidharta, salah satu kawasan yang masih kuat pengaruh Karsten-nya adalah kawasan Candi Baru. Di kawasan itu, yang didominasi rumah elite dan dulu ditempati kaum Eropa, terdapat Kampung Kalilangse yang dihuni oleh kaum pribumi.

Kampung Kalilangse kini masih terawat dengan baik, dengan beberapa perubahan. Rumah-rumah yang dulunya terbuat dari bilik, kini merupakan bangunan permanen berdinding tembok.

Selain itu, jalan yang dulunya terbuat dari tanah juga sudah diaspal menjadi jalan permanen.

"Dalam merancang atau mendesain suatu kawasan atau bangunan, Karsten sangat detail. Salah satu contoh karyanya adalah rancangan kawasan Mlaten atau yang sekarang sekitar kawasan Citarum. Karsten merancang rumah murah sekaligus WC umum. Dia sadar, rakyat kecil tidak mampu membangun WC," kata Albertus sambil menunjukkan peta rancangan kawasan Mlaten yang kini sudah banyak berubah.

Dalam rancangannya, Karsten juga sudah memperkirakan bahwa pusat Kota Semarang akan bergeser dari wilayah Kota Lama (pada masa itu) ke kawasan Simpang Lima.

Dia mengantisipasi perkembangan kota dengan menciptakan sebuah lapangan luas yang terbentuk dari persimpangan Jl Pieter Sythoof Laan (sekarang Jl Pandanaran) dan Jl Randusari dengan Oei Tiong Ham-weg (sekarang Jl Pahlawan) dan Jl Seteran.

Konsep dasar ini kemudian mulai direalisasikan setelah Presiden Soekarno di tahun 1960-an melontarkan gagasan tentang adanya alun-alun yang mampu menampung satu juta orang masyarakat Semarang.

Seperti diramalkan Karsten, Simpang Lima memang berkembang pesat. Sayangnya, perencanaan di kawasan sekitar Simpang Lima seperti Erlangga, Pleburan, dan Wonodri tidak berdasarkan rencana yang dibuat Karsten.

Menurut Albertus, tidak hanya Simpang Lima yang melenceng dari konsep awal Karsten membangun Semarang. Beberapa kawasan seperti Sompok dan Jalan Brumbungan juga tidak sesuai dengan rancangan Karsten.

Taman yang asri di kawasan Sompok kini telah musnah. Sebagai gantinya, di lahan itu dibangun kantor Kecamatan Semarang Selatan. Sementara taman di Jalan Brumbungan digantikan oleh kantor kelurahan. Berubahnya konsep Karsten, kata Albertus, sebagian karena desakan ekonomi.

Penggagas Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) Kriswandhono beranggapan, untuk mewujudkan kembali Semarang yang humanis, yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, semua pihak perlu merenungkan konsep Karsten. Semoga desakan ekonomi tidak membuat kita kehilangan nilai-nilai sebagai manusia….(KHAIRINA)

Semarang 2020 - Menuju Kota yang Humanis

Ir. Herman Thomas Karsten – Semarang 1914 -2004

Antara harapan dan perjuangan

Kita tidak ingin terjebak dalam pola nostalgia, kita juga tidak sedang melakukan perjalanan sentimental dan sekedar mengenang bangunan lama atau kagum dengan ornamen bangunan lengkap dengan lansekap aransemen yang tidak beranjak dari komposisi orisinal. Kita sedang melakukan anamnesis, untuk menyadarkan masyarakat serta membuktikan sekaligus mengaktualisasikan karya itu mampu menembus waktu yang bisa di rasakan dari perspektif zaman sekarang dan menjadikan peristiwa ini sebagai dasar yang kokoh untuk membangun kota yang lebih humanis.

Cakupan cakrawala arsitektur yang luas perlu dilihat secara holistik, karena belajar arsitektur sesungguhnya adalah belajar dari pengalaman sejarah peradaban manusia yang hidup mentradisi. Pada saat tertentu kita bisa secara sepenggal mempelajarinya namun apabila sudah masuk pada wilayah sejarah maka arsitektur menjadi sangat kompleks dan rumit.Termasuk mempelajari bangunan kuno, wilayah pandang kita tidak bisa hanya terpenggal-penggal oleh pengertian fisik sebuah artefak.

Bersyukur Kota Semarang pernah disinggahi oleh seorang arsitek pejuang yang gigih dalam prinsip berkehidupan. Ir. Herman Thomas Karsten (1884-1945) menginjakkan kaki di bumi nusantara pada akhir tahun 1914 atas undangan rekan seniornya saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Delft, yakni Henri Maclaine Pont.

Setelah Maclaine Pont kembali ke negeri Belanda karena alasan kesehatan maka Thomas Karsten melanjutkan tugas-tugas tersebut, di kemudian hari namanya melambung karena dianggap turut meletakkan dasar-dasar perencanaan di beberapa kota di Indonesia. Pernah bekerja sebagai perencana dan penasehat di beberapa kota di Indonesia antara lain : Batavia (Jakarta), Jatinegara (Meester Cornelis) Bandung, Bogor (Buitenzorg), Semarang, Malang, Palembang, Padang, Medan, Banjarmasin bahkan sampai merancang perumahan murah di desa kecil di Selatan-Barat Kota Magelang yakni desa Kwarasan. Di samping sebagai planner dan penasehat, Karsten juga merancang beberapa bangunan di beberapa kota.

Menangani Rencana Perluasan Kota Semarang (1916-1930) dan menyusun Peraturan Bangunan (1936) merupakan pekerjaan Karsten pada waktu itu dan tampak jelas di beberapa lokasi di Semarang; antara lain daerah Candi Baru dan RS.Elizabeth adalah salah satu karyanya. Selama tahun-tahun tersebut Karsten tinggal di daerah Tjandi, sebuah daerah berbukit dibagian Selatan Kota Semarang, lahan seluas 50 Ha dibagi menjadi tiga zona sesuai dengan karakteristik topografi dan flora, sedangkan tipe bangunan, ia menerapkan konsep pengelompokan berdasar tingkat ekonomi. Perencanaan kawasan di Semarang yang ia rencanakan juga adalah daerah Pekunden dan Peterongan, Sompok dan Semarang Timur pada tahun 1919.

Dalam Konggres Perumahan Internasional tahun 1913, di Scheveningen Belanda, H.F. Tellima menguraikan buruknya kondisi perumahan terutama dalam sistem penghawaan dan pencahayaan di Indonesia. Kondisi seperti itu dikemukakan dengan mengetengahkan kasus kampung-kampung di Semarang. Mungkin alasan ini pula yang mendorong Karsten memutuskan untuk berlayar ke Hindia-Belanda.

Karyanya menjadi berpengaruh karena otoritas dan dominasi Karsten memang didasari oleh kemampuan dan pengalamannya yang luas, cara pendekatannya yang halus serta pandangan sosialnya yang jauh ke depan. Sikap sosialis dan pandangan politiknya begitu kental tertuang saat membangun kota. Kepentingan umum ia letakkan di atas kepentingan pribadi, dengan kata lain arsitektur hendaknya tunduk kepada kepentingan pembangunan kota (masyarakatnya).

Maka tidak berlebihan apabila pada awal tulisan ini, Karsten dikatakan sebagai arsitek pejuang, karena pribadinya yang ”unik” dan berbeda dengan perilaku kaum sebangsanya pada saat itu, dia juga turut mendirikan dan aktif di Java Institute. Tujuan akhirnya adalah kemerdekaan bagi Indonesia dengan demokratisasi yang bertahap. Diantara kawan-kawannya terdapat orang-orang penting seperti Soekarno, Djojodiningrat dan Rajiman dan dapat dikatakan bahwa mengakhiri kolonialisme dan menuju kemerdekaan Indonesia adalah ide besarnya.

Di Semarang ikut mendirikan perkumpulan kesenian Jawa Sobokarti, dan sekaligus merancang gedung teater Sobokarti yang saat ini kondisi fisik bangunannya sangat memprihatinkan dan penuh sengketa. Duduk menjadi anggota Dewan Kesenian dan Kebudayaan, juga anggota komisi Purbakala. Dengan memperhatikan detail bangunan karyanya tampaklah bahwa Karsten begitu tekun dan teliti, tajam dalam analisa serta brilyan dalam membuat solusi pemecahan problem bangunan maupun lingkungan.

Sampai kepada soal pendidikan, karena keprihatinannya terhadap tenaga ahli teknik di Indonesia, iapun menyumbangkan tenaganya dengan mengambil bagian di kuliah perencanaan kota di Technische Hoogeschool Bandung (sekarang ITB), sempat menjadi Profesor selama enam bulan (1941-1942). Namun akhirnya, Karsten yang banyak jasanya, harus mengalami nasib pahit dalam hidupnya karena pada tahun 1945 ia meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi.

Memasuki usianya yang ke 456 Semarang terkesan terlihat letih, seolah benang merah kegemilangan sejarah masyarakatnya dalam berarsitektur terputus, bahkan kita tidak pernah tahu atau tidak mau tahu bagaimana seorang Thomas Karsten pernah meletakkan dasar-dasar perencanaan kota Semarang. Masih cukup banyak karyanya di Semarang antara lain : SMK Ibu Kartini, Gedung PT KAI Daop IV, PT. Djakarta Lloyd, Rumah Pemotongan Hewan Kabluk, Stasiun Kereta Api Poncol, Pasar Randusari, Pasar Jatingaleh, Pasar Johar (bandingkan the best shoppingmall, Pasar Djohar tahun 1933, dan Johnson Wax Building tahun 1936 di Wisconsin karya Frank Lloyd Wright), rumah tinggal di daerah Jl. Gajahmungkur, dll.

Kengganan masyarakat (termasuk pemerintahan) untuk mempelajari kebudayaan melalui sejarah (arsitektur) dan rendahnya pemahaman masyarakat tentang bagaimana hidup berarsitektur bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pembelajaran sosial-humaniora masyarakat. Termasuk keengganan “belajar” kepada Karsten yang memang pernah diangkat oleh Gemmeente Semarang menjadi Penasehat Pembangunan Kota Semarang pada tahun 1916.

Kita tidak ingin terjebak dalam pola nostalgia, kita juga tidak sedang melakukan perjalanan sentimental dan sekedar mengenang bangunan lama atau kagum dengan ornamen bangunan lengkap dengan lansekap aransemen yang tidak beranjak dari komposisi orisinal. Kita sedang melakukan anamnesis, untuk menyadarkan masyarakat serta membuktikan sekaligus mengaktualisasikan karya itu mampu menembus waktu yang bisa di rasakan dari perspektif zaman sekarang dan menjadikan peristiwa ini sebagai dasar yang kokoh untuk membangun kota yang lebih humanis. Dalam konteks ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan persoalan konservasi yang dialami oleh pemerintah kota Semarang sebagai problem berat terutama apabila menyangkut kemampunan finansial.

Widjaja Martokusumo, Kompas, Minggu 3 Oktober 2004 menegaskan bahwa pembangunan kota adalah akumulasi dari berbagai proses pengambilan keputusan. Konservasi kawasan bersejarah tidak boleh menyebabkan dampak sosial negatif, tetapi justru harus menyelaraskan dengan kepentingan publik.

Semarang yang masih memiliki bangunan-bangunan kuno cukup banyak bahkan memiliki kawasan kota lama perlu melakukan re-visi dalam masalah tata kota sehingga memunculkan paradigma baru tentang konservasi untuk keselarasan masyarakat ; konservasi bukan lagi hanya tanggung jawab pemerintah tapi dengan kesadaran dan talenta masing-masing warga masyarakat hendaknya turut menyikapi dan memberikan kontribusi konkret pada masalah konservasi secara operasional dan direksional sehingga langkah penanganan konservasi menjadi sebuah gerakan (movement) masyarakat.

Kembali ke alam realita ; perubahan dan pertambahan penduduk tidak dapat dibendung. Yang bisa dikerjakan ialah mengkonservasi. Menurut pengamatan sepintas konservasi itu belum terlambat. Memuseumkan gedung-gedung atau daerah tua yang bersejarah akan memperkaya Semarang…..demikian pernah ditulis dalam Sepotong Album dari Semarang, Kompas, Rabu, 22 Oktober 1975 oleh Prof. Bambang Hidayat.

Maka sudah pantas dan selayaknya apabila rancangannya yang humanis kembali ditelusuri, dicari esensi desain urbannya kemudian diangkat untuk menjadi anamnesis dan sekaligus dijadikan tonggak dan semangat baru dalam menata Kota Semarang menuju kota yang lebih humanis.

Dengan tajuk Semarang 2020 - come to the Humanizing city dan tema Humanizing Space come from Humanization of design untuk kali pertama, sejarah dan foto-foto karya Karsten akan dipamerkan secara terbatas dalam lingkup karyanya di kota Semarang pada awal bulan Desember 2004 mendatang di Semarang sebagai peringatan 90 tahun karya Karsten di Semarang (1914-2004) dan sekaligus secara khusus sebagai penghargaan atas perhatian dan perjuangannya bagi masyarakat arsitektur Indonesia. Bagaimana dengan kualitas ruang kota Semarang pada tahun 2020 ? Tentunya sangat bergantung dari sikap perilaku pemerintah dan warganya mulai saat ini. Selamat menyadari.

Kriswandhono - KITA Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur

Karya-karya Karsten Dipamerkan (Seputar Semarang)

Gugah Kepedulian Melalui Foto (Radar Semarang)
Mengenang Karsten di Lawang Sewu (Suara Merdeka)
Arsitek Kota-kota Besar Hindia Belanda (Suara Merdeka)
Stoomvart Matschappij Nederland (Seputar Semarang)
Prihatin Perubahan Peruntukan Simpanglima (Seputar Semarang)
Sosok Humanis yang Meninggalkan Karya Besar (Seputar Semarang)
Thomas Karsten dan Karya Besarnya (Kompas Edisi Jawa Tengah)
Memimpikan Semarang yang Lebih Humanis... (Kompas Edisi Jawa Tengah)
Antara harapan dan perjuangan (Kompas)


Copyright©KITA 2004
This site and all of its content are protected by law