Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur
Muka | Kontak | Buku tamu

Berita & Artikel

Berita & Artikel
    Berita terkait:
Seputar Semarang Edisi 69 Tahun II 21-27 Desember 2004

Ir Herman Thomas Karsten

Sosok Humanis yang Meninggalkan Karya Besar

Apabila ada pertanyaan siapa yang paling berjasa dalam meletakkan dasar-dasar bagi perencanaan Kota Semarang di masa lalu? Herman Thomas Karsten bisa jadi adalah salah satunya. Tidak hanya Semarang, karya arsitekturnya juga banyak berceceran di kota-kota lain, baik di Pulau Jawa, Sumatera, maupun Kalimantan.

Thomas Karsten, begitu biasanya dia disebut, lahir di Kota Amsterdam, Belanda dari sebuah keluarga berpendidikan. Ayahnya seorang professor di bidang filsafat dan juga seorang wakil ketua Chancellor di Universitas Amsterdam.

Kiprahnya dalam perencanaan dan pengembangan kawasan Kota Semarang, dimulai pada tahun 1914. Ketika itu, insinyur arsitek lulusan Technische Hoogeschool; Deft tersebut bergabung dengan Maclaine Pont, kakak kelasnya semasa kuliah yang telah lebih dulu berkiprah di Semarang.

Pada masa awal berkiprah, Karsten mendapati bahwa system pembagian pemukiman yang berlaku di Kota Semarang yang diletakkan oleh perancang-perancang terdahulu adalah berdasarkan suku dan ras. Hal itu dapat dilihat dari terkonsentrasinya suatu suku ataupun ras yang ada Semarang dalam sebuah kawasan. Penyebutan Kampung Melayu, Pecinan, Pekojan, dan Kota Benteng menegaskan pembagian tersebut.

Sistem inilah yang lantas ditentangnya. Karsten lebih memilih pembagian berdasarkan kelas ekonomi dengan menerapkan pendekatan terhadap penghasilan, perkembangan, dan persyaratan lainnya.

Selain ‘mendobrak’ tradisi lama tersebut, Karsten juga salah satu arsitek yang mendukung integritas antara unsure-unsur likal dengan barat. Hal itu terlihat dalam karya arsitekturnya pada gedung PT KA Daop IV Semarang di Jalan Thamrin, Sobokartti di Jalan Dr Cipto, SMA Ibu Kartini di Jalan Sultan Agung, beberapa pasar tradisional dan lainnya.

Karsten semakin leluasa untuk menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam hal perencanaan dan pengembangan Kota Semarang setelah dia diangkat secara resmi oleh pemerintah lokal sebagai penasehat perencanaan kota.

Albertus Sidharta pada sebuah seminar mengenang 90 tahun karya-karya Thomas Karsten yang diselenggarakan oleh KITA (Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur-Red). Dalam makalahnya disebutkan, Karsten berhasil dalam merencanakan beberapa daerah yang sebelumnya terpisah menjadi sebuah jalinan yang menyatu.

Kawasan-kawaasan yang dikembangkan oleh Karsten tersebut di antaranya, daerah Candi Baru (1916), Pekunden, Peterongan, Batan, dan Wonodri (1919), Sompok (1919), daerah Semarang Timur (1919), dan daerah Mlaten (1924).

Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan.

Selain di Semarang dalam kapasitas yang sama, Karsten juga meletakkan dasar-dasar perencanaan dan pengembangan terhadap kota-kota lain, di antaranya Kota Bandung, Batavia, Magelang, Malang, Bogor, Madiun, Cirebon, Jatinegara, Yogyakarta, Surakarta, dan Purwokerto.

Sementara di Pulau Sumatera, Karsten turut andil dalam perencanaan dan pengembangan Kota Palembang, Padang, dan Medan. Sedangkan Balikpapan adalah satu-satunya kota yang turut merasakan sentuhan pemikiran Karsten di Pulau Kalimantan.

Karsten menjadi salah satu bagian dari kelompok kecil orang-orang Belanda yang menghendaki kemerdekaan Indonesia. Di samping itu, dia juga menganggap penting bagi para ahli teknik untuk meningkatkan kemampuan dalam hal perencanaan kota. Hal itulah yang kemudian mendorongnya ambil bagian memberikan kuliah di ITB Bandung dalam bidang tersebut.

Sayang, kiprahnya tak lama. Seiring dengan invasi tentara Jepang, dia ditangkap dan dimasukkan dalam kamp internir Jepang di Cimahi hingga ajal menjemputnya di tahun 1945. (a) *Dian Chandra TB

Kompas Edisi Jawa Tengah, Senin, 20 Desember 2004
Thomas Karsten dan Karya Besarnya…

Siapa yang menyangka Semarang yang kini mengalami banyak masalah dengan penataan kota dulunya direncanakan dengan cermat oleh Herman Thomas Karsten (1884–1945). Karsten adalah arsitek besar yang sangat berdedikasi pada masanya. Namanya mungkin setara dengan Wolf Schoemaker, arsitek dan planolog Kota Bandung, Jawa Barat.

Thomas Karsten lahir di Amsterdam pada 22 April 1884. Ayahnya adalah profesor Ilmu Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor (pembantu rektor) di Universitas Amsterdam.

Karsten pertama kali menimba ilmu di Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delf, Belanda, dan lulus tahun 1908. Enam tahun setelah lulus, dia pergi ke tanah Hindia dengan menumpang kapal terakhir dan bergabung dengan Biro Pembangun milik seniornya Henri Maclaine Pont.

Tidak hanya di Semarang, Karsten juga bekerja menjadi perencana dan penasihat di beberapa kota di Indonesia, antara lain Batavia (Jakarta), Jatinegara (Meester Cornelis) Bandung, Bogor (Buitenzorg), Semarang, Malang, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan, Banjarmasin, bahkan sampai merancang perumahan murah di desa kecil di barat daya Kota Magelang, yakni Desa Kwarasan.

Ciri khas karya Karsten adalah nilai kemanusiaannya yang kental dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Dalam setiap rancangannya, dia tidak pernah melupakan kepentingan orang-orang kecil, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu.

Pada pameran foto yang memperlihatkan karya-karya Karsten, di Lawang Sewu, 15-19 Desember 2004, hanya dipajang gambar sepuluh karya Karsten di Semarang. Padahal, sesungguhnya karya-karya yang dia hasilkan lebih banyak dari itu.

"Kami baru berhasil menemukan sepuluh karya Karsten di Semarang. Kami kesulitan mengumpulkan data karena belum ada yang mendata berapa sesungguhnya karya-karya dia," kata Penggagas Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) Kriswandhono yang juga ketua panitia pameran.

Karsten antara lain diketahui merancang gedung De Koloniale Tentoonsteling (1914), kantor Van de Pol (1917), kompleks bangunan Van Deventer School, sekarang SMK Kartini (1923), Rumah Pemotongan Hewan Pandean Lamper Kabluk (1925), Kantor Joana Stoomtram Mij, sekarang Kantor PT Kereta Api Indonesia Daops IV (1930), dan gedung teater rakyat Sobokartti (1930).

Pada gedung Sobokartti, yang kini tidak boleh dimasuki karena tengah berada dalam sengketa, Karsten mengeksplorasi gaya Joglo-Limasan. Meski seorang Belanda, kelihatan sekali dia sangat terpengaruh kultur Jawa.

"Kemungkinan karena dia beristrikan perempuan Jawa dan juga banyak berkumpul dengan orang-orang Jawa, jadi pemikirannya sangat Jawa," kata Kriswandhono.

Pada tahun 1921, Karsten memang menikah dengan perempuan keturunan Jawa bernama Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, masing-masing Regina (1924), Simon (1926), Joris (1928), dan Barta (1929). Dia juga bergabung dalam Institut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa.

Selain mengedepankan kepedulian terhadap rakyat kecil, Karsten juga termasuk arsitek yang memperkenalkan konsep daur ulang dan pengkritik keras kebijakan arsitek Belanda sebelumnya. Kebanyakan arsitek Belanda ingin memindahkan Belanda ke tanah Jawa. Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, bukan Belanda.

"Satu hal yang harus diteladani dari Karsten adalah dia menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh," kata Albertus Sidharta, dosen arsitektur dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Meski banyak berjasa, kehidupan Karsten berakhir tragis. Setelah masuk dalam kamp interner Jepang di Cimahi pada 1942, dia meninggal tiga tahun kemudian. Meski demikian, karya-karyanya yang humanis akan tetap dikenang sepanjang masa…. (IRN)

Karya-karya Karsten Dipamerkan (Seputar Semarang)

Gugah Kepedulian Melalui Foto (Radar Semarang)
Mengenang Karsten di Lawang Sewu (Suara Merdeka)
Arsitek Kota-kota Besar Hindia Belanda (Suara Merdeka)
Stoomvart Matschappij Nederland (Seputar Semarang)
Prihatin Perubahan Peruntukan Simpanglima (Seputar Semarang)
Sosok Humanis yang Meninggalkan Karya Besar (Seputar Semarang)
Thomas Karsten dan Karya Besarnya (Kompas Edisi Jawa Tengah)
Memimpikan Semarang yang Lebih Humanis... (Kompas Edisi Jawa Tengah)
Antara harapan dan perjuangan (Kompas)


Copyright©KITA 2004
This site and all of its content are protected by law