Komunitas
Inisiatif Telaah Arsitektur |
|
Berita & Artikel |
| Berita terkait: | ||
Stoomvart Matschappij NederlandSalah Satu Bangunan "Hemat Energi" Tempo Dulu Gedung yang terletak di pertigaan Jalan Mpu Tantular (Altingstraat) dan Jalan Kutilang (Hoofdwachstraat) ini merupakan salah satu karya dari Herman Thomas Karsten (1884-1945). Pembangunan selesai pada sekitar tahun 1930-an, dengan arsitektur bangunan perpaduan antara Eropa dan lokal. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai kantor bagi perusahaan pelayaran di zaman kolonial yang bernama Stoomvart Matschappij Nederland, kini masih dipergunakan sebagai kantor oleh PT Djakarta Lloyd. Salah satu ciri khas yang menonjol dari gedung ini adalah atapnya yang berbentuk limasan dengan sudut kemiringan yang cukup tajam. Hal ini menurut Albertus Sidharta, salah seorang pengajar di FT Unika Soegijapranata Semarang merupakan sebuah karya yang menakjubkan. "Genteng biasa yang dipergunakan, meski dengan kemiringan seperti itu, tidak sekalipun melorot turun," katanya beberapa waktu lalu saat ditemui di tengah-tengah seminar di Lawang Sewu. Hal itu, menurutnya, hanya bisa dilakukan dengan kecermatan dan ketelitian yang sangat tinggi. Sebuah hasil karya arsitektur yang mengagumkan di masa lalu. Bangunan dua lantai ini berbentuk segi empat dan memiliki pintu masuk tepat berada di tengah-tengah bangunan. Walaupun Karsten menerapkan ciri arsitektur tropis, namun dalam pemilihan bahan bakunya dia secara khusus mendatangkan dari Belanda. A Ardiyanto, staf pengajar jurusan Arsitektur Unika Soegijapranata dalam makalahnya saat menjadi pembicara pada sebuah seminar mengenang karya-karya Herman Thomas Karsten menuliskan, desain bangunan SMN menunjukkan bahwa telah ada upaya penghematan energi listrik. Hal itu terlihat dari atap kaca dengan desain khusus untuk pencahayaan alami dari sinar matahari, sekaligus sebagai sirkulasi udara. Konsep bangunan yang "hemat energi" tersebut juga dipaparkan oleh Yulianto Sumalyo dalam bukunya Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press tahun 1995. Dalam buku yang berjudul asli L’Architecture Colonial Hollandais en Indonesie, yang mengetengahkan karya-karya arsitek besar Belanda di Indonesia tersebut, dia menuliskan dalam ruang kantor SMN, plafon dibuat tinggi dengan jendela dan ventilasi yang lebar. Hal itu dimaksudkan untuk penghawaan dan pencahayaan yang alami. Pada masa lalu, gedung ini difungsikan sebagai kantor pelayaran, kiranya cukup beralasan, mengingat tidak jauh di muka gedung tersebut terdapat Kali Semarang yang merupakan salah satu jalur utama di Kota Semarang tempo dulu. Pada tahun 1935, gedung ini pernah pula dipergunakan sebagai kantor konsulat Norwegia. (a) *Dian Chandra TB |
Seputar Semarang Edisi 69 Tahun II 21-27 Desember 2004
Prihatin Perubahan Peruntukan SimpanglimaIr Albertus Sidharta Muljadinata MS ArchPemerhati Arsitektur Semarang Bagi lelaki kelahiran Kota Semarang 47 tahun yang lalu ini, Herman Thomas Karsten bukanlah nama yang asing baginya. Maklum, ketika mengambil tesis untuk S2 Arstitektur di ITB Bandung, lelaki berkacamata ini mengkaji pemikiran-pemikiran Karsten dalam hal perencanaan dan pengembangan Kota Semarang. "Kebetulan saya mengambil tesis tentang Semarang Town Planning," terangnya di sela-sela waktu rehatnya, saat menjadi pembicara pada suatu seminar di Gedung Lawang Sewu, beberapa waktu lalu. Lalu, apa pendapatnya setelah mencermati kiprah arsitek kelahiran Amsterdam dalam hal merancang dan mengembangkan Kota Semarang? "Luar biasa! Dia mampu menyatukan daerah-daerah yang dikembangkan menjadi satu kesatuan yang utuh dengan kawasan Kota Lama, meski masa pelaksanaannya tidak bersamaan," ungkapnya. Kunci keberhasilan Karsten, masih menurutnya, terletak pada kemampuannya dalam mencermati keberadaan jalan-jalan utama yang terlebih dulu ada, seperti Dr Cipto, MT Haryono, Gajah Mada, dan A Yani. Hal itu mencerminkan konsistensi dari seorang Karsten dalam perencanaan. Konsistensi inilah yang menurut Albertus, agak diabaikan oleh pengambil kebijakan dalam hal merancang pembangunan sebuah kota. Untuk Kota Semarang dia sedikit mengambil contoh, yaitu kawasan Simpanglima. "Peruntukan saat ini sangat berbeda dengan yang terdapat di master plan Kota Semarang tahun 1975-2000," ucap Albertus yang menamatkan studi S1-nya di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung tahun 1984 ini. Ditambahkannya, dalam hal peningkatan dan pengembangan kota kepentingan-kepentingan ekonomi dirasakannya masih cukup dominan. Hal ini yang menurutnya, semestinya tidak terjadi. Mengutip pemikiran Karsten, dia mengatakan, dalam perencanaan sebuah kota, perlu mengasumsikan kota tersebut adalah sebuah organisme yang 'hidup', yang selalu 'tumbuh' dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak akan pernah menjadi statis. Dia pun tak menutupi rasa prihatinnya terhadap hilangnya beberapa taman kota di Semarang yang terjadi beberapa tahun lalu. Salah satunya elemen fisik kota yang oleh Karsten sangat diperhatikan dalam upayanya merancang dan membangun kawasan di Kota Semarang. "Saat ini, anak-anak kita kehilangan tempat untuk bermain. Kebanyakan dari mereka kini bermain di jalan-jalan dan lorong-lorong kampung," ucap Albertus dengan nada prihatin. (e) *D Chandra TB |
Karya-karya Karsten Dipamerkan (Seputar Semarang) |
| Gugah Kepedulian Melalui Foto (Radar Semarang) | ||
| Mengenang Karsten di Lawang Sewu (Suara Merdeka) | ||
| Arsitek Kota-kota Besar Hindia Belanda (Suara Merdeka) | ||
| Stoomvart Matschappij Nederland (Seputar Semarang) | ||
| Prihatin Perubahan Peruntukan Simpanglima (Seputar Semarang) | ||
| Sosok Humanis yang Meninggalkan Karya Besar (Seputar Semarang) | ||
| Thomas Karsten dan Karya Besarnya (Kompas Edisi Jawa Tengah) | ||
| Memimpikan Semarang yang Lebih Humanis... (Kompas Edisi Jawa Tengah) | ||
| Antara harapan dan perjuangan (Kompas) |
